Rabu, 10 September 2014

,Ajari aku TegaR !!!,



Ku genggam satu jiwa yang kusebut CINTA, agar ia tetap menjadi penghuni di hatiku yang mulai rapuh ini. Ku pertahankan satu  senyuman yang kumiliki agar ia mampu memperindah hatiku yang sunyi ini menjadi seberkas pelangi. 

Fikirku salah ! ! !
Genggaman semakin erat CINTA itu semakin pudar, hilang. Senyum itu semakin hambar menyajikan sebuah kemunafikan. Sesekali CINTA memang menguatkanku, Namun seringkali CINTA menjatuhkanku, Membuatku tersudut dalam kesunyian terus menerus dan semakin dalam, tanpa cahaya, penerangan bahkan lentera.
Terkadang aku bosan, aku lelah, aku sunyi dan sepi.
Sesekali aku Gelisah, aku takut, aku terjatuh, aku sakit, aku berteriak dan aku menangis.
Sesekali kupanggil Ayah dan Ibu, namun mereka tetaplah jauh dari hatiku. Sesekali kucoba cairkan hati, namun tetap saja kasih sayang mereka tak mampu kusentuh.
Maaf, maaf dan sekali lagi MAAF.
mungkin aku harus lebih belajar melunakkan hatiku yang semakin keras karenanya.
Ah, aku tidak peduli lagi, aku hanya perlu melanjutkan hidupku. Meskipun banyak persimpangan dihadapku. Kuteruskan langkahku dan kubiarkan hati yang menentukan jalan terbaik.

Aku bangkit dan berjalan di atas kerikil-kerikil tajam yang terinjak kakiku. Kemana? Untuk apa? dan pada siapa aku akan melabuhkan diriku ini. Allah. Allah yang akan menampungku, bebanku, tangisku, juga semua yang ku angkut bersama jiwa yang tak sepadan denganNYA
Senyumku merekah saat benar - benar kutemui cahaya didepanku. Cahaya yang awalnya memberi kehangatan dan penerangan bagi jiwa dan jalanku. Cahaya yang menghadirkan bahagia dan cinta tukku. Cahaya yang ku sebut Cinta. CINTA? lagi-lagi cinta. Tidak.. ini bukan cinta. Ini adalah sepercik dari kilatan cahaya sejati yang aku rasakan sesaat saja.
Seiring waktu yang berputar aku merasakan lagi kehambaran, keredupan atas cahaya itu. Semakin hari semakin gelap, pekat. Cahaya itu hilang, melayang tiada kudapatkan lagi. Mungkin, cahaya itu menyinggahi hati yang lain, setelah tahu hatiku ini terasa hambar, pahit.

Aku terduduk lesu menyaksikan cahaya itu menerangi hati yang lain. Hingga mata ini menghadiahkan hujan yang tiada reda untuk kuusap sekilas saja. Ranting yang mulai mencabangkan akar-akar cinta, kini merapuh lagi. Bunga yang ingin terkecup oleh wangi cahaya cinta, akhirnya layu juga. Hingga ku terbangun dari mimpiku, dan menyusuri lorong waktu kembali. Sekelumit cahaya-cahaya cinta itu hanyalah hilirnya saja. Biar kubawa sepenuh hatiku yang hancur ini berjalan menemui hulu sang pencipta Cinta. Karena aku tahu cinta suci itu akan bertumpu pada ALLAH.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar